Saturday, November 22, 2008

Selamat Datang

Pertama kami ucapkan selamat datang ke blog kami. Semoga mendapat munafaat selayaknya sebagai imbalan jerih payah anda melayari laman kami. Kami ingin menyumbang sedikit pengalaman di dunia tahfiz bermula 1974 di Indonesia (Jakarta) dan berkembang semenjak tahun 1992 di Malaysia ( Kelantan) sehingga sekarang, dimana kaedah yang kami cipta tersebut dapat di prediksikan sebagai diantara kaedah yang berkesan menjaga hafalan Al-Quran, terutama mudah mengingati kembali juzuk juzuk yang dihafal dengan pantas.Bagaimanapun untuk mengamalkan kaedah ini faktor istiqamah/disiplin sangat ditekankan selama proses menghafal dan menentukan kejayaan yang akan diraih dikala menamatkan hafalan setiap juzuk atau khatam keseluruhan 30 juzuk, insya Allah.

Imam Salat Tarawih Di Mataram Baca Ayat Satu Juz

Mataram ( Berita ) : Dari sekitar 700 buah masjid di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), ada tiga masjid yang melaksanakan salat Tarawih dimana imamnya membaca ayat Al-Quran satu juz untuk 20 rakaat setiap malam.“Dengan demikian, begitu habis bulan Ramadhan, maka dapat mengkhatamkan Al-Quran yang sebanyak 30 juz sebagaimana yang dilaksanakan di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi,” demikian hasil pantaun ANTARA Mataram, Ahad [21/09] malam.Tiga masjid yang imamnya membaca ayat sebanyak satu juz setiap malam tersebut yakni masjid Raya At-Taqwa Mataram, Masjid Karang Bedil dan masjid Kampung Lawata Mataram.Salat Tarawih di masjid Raya At-Taqwa Mataram dimulai pukul 08.00 Wita diawali dengan salat Isa, kemudian ceramah tujuh menit dan dilanjutkan dengan salat Tarawih dan selesai sekitar pukul 21.30 Wita.Pengurus masjid Raya At-Atqwa Mataram, M. Imron mengatakan, iman salat Isa sekaligus Tarawih adalah mereka yang hafal Al-Quran dan setiap malam disiapkan dua imam. Imam pertama memimpin 10 rakaat dan iman kedua memimpin 10 rakaat lagi ditambah dengan salat Witir tiga rakaat.Salat Tarawih dengan membaca ayat satu juz tersebut dimulai sekitar tiga tahun lalu dan pesertanya cukup banyak. Memang pada awal-awal jamaah yang ikut sembahyang Tarawih hanya sekitar dua saf, tetapi sekarang sudah lebih banyak sekitar enam saf.Ini berarti tingkat keimanan dan ketaqwaan umat Islam di daerah ini semakin baik bahkan ada mantan imam tetap masjid Raya At-Taqwa Mataram yang kini usianya lebih dari 80 tahun, KH. Ahmad Usman masih tekun salat Tarawih dengan bacaan ayat satu juz meskipun dengan cara duduk di kursi.Sejumlah masjid lainnya di Kota Mataram melaksanakan salat Tarawih di masing-mnasing kampung dan rata-rata salat Tarawih dikerjakan 23 rakaat termasuk salat Witir dengan ayat pendek-pendek.Dikatakan, sekarang ini bulan puasa tinggal sembilan hari dan dihari-hari terakhir harus berupaya untuk tetap melakukan salat Tatawih karena pada malam-malam ganjil, yakni malam 21, 23, 25, 27 dan 29 biasanya terjadi malam Lailatulqadar yang pahalanya lebih dari 1.000 bulan

Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Dalam Kitab Shahihain disebutkan, dari Aisyah ra, ia berkata: "Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw. mengencangkan kainnya, menjauhkan diri dari menggauli istrinya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." Demikian menurut lafazh Al-Bukhari. Adapun lafazh Muslim berbunyi: "Menghidupkan malam(nya), membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya." Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra.: "Rasulullah bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya." Rasulullah saw. mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, di antaranya:1.. Menghidupkan malam. Ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim dari Aisyah ra., ia berkata, "Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shalat malam hingga pagi." Diriwayatkan dalam hadits marfu' dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali: "Barangsiapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan, dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jum'at; sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Tuhan Yang Maha suci dan Maha tinggi. Abu Ja'far berkata: "Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah para penguasa." (HR. Ibnu Abid-Dunya).2.. Rasulullah saw. membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam yang lain tidak. Dalam hadits Abu Dzar ra. disebutkan: "Bahwasanya Rasulullah saw. melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja. " Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya. At-Thabrani meriwayatkan dari Ali ra.: "Bahwasanya Rasulullah membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat." Dalam hadits shahih diriwayatkan: "Bahwasanya Rasulullah saw. mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu 'anhuma pada suatu malam seraya berkata: Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga membangunkan Aisyah ra. pada malam hari, bila telah selesai dari tahajudnya dan ingin melakukan (shalat) witir. Diriwayatkan juga mengenai adanya targhib (dorongan) agar salah seorang suami-isteri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun. (Hadits riwayat Abu Daud dan lainnya, dengan sanad shahih.) Dalam kitab Al-Muwaththa' disebutkan dengan sanad shahih, bahwasanya Umar melakukan shalat malam seperti yang dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka: "Shalat! shalat!" Kemudian membaca ayat berikut: "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (Thaha: 132).3.. Bahwasanya Nabi saw. mengencangkan kainnya. Maksudnya, beliau menjauhkan diri dari menggauli isteri-isterinya. Diriwayatkan juga bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga bulan Ramadhan berlalu. Dalam hadits Anas ra. disebutkan : "Dan beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi isteri-isterinya (tidak menggauli mereka). Rasulullah saw. beri'tikaf pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan." Orang yang beri'tikaf tidak diperkenankan mendekati (menggauli) isterinya berdasarkan dalil dari nash serta ijma'. "Mengencangkan kain" ditafsirkan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah.4.. Mengakhirkan berbuka hingga waktu sahur. Diriwayatkan dari Aisyah dan Anas ra, bahwasanya Rasulullah pada malam-malam sepuluh (akhir bulan Ramadhan) menjadikan makan malam (berbuka)nya pada waktu sahur. Dalam hadits marfu' dari Abu Sa'id ra, ia berkata: "Janganlah kalian menyambung (puasa). Jika salah seorang dari kamu ingin menyambung (puasanya) maka hendaknya ia menyambung hingga waktu sahur (saja). " Mereka bertanya: "Sesungguhnya engkau menyambungnya wahai Rasulullah? "Beliau menjawab: "Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya pada malam hari ada yang memberiku makan dan minum." (HR. Al-Bukhari) Ini menunjukkan apa yang dibukakan Allah atas beliau dalam puasanya dan kesendiriannya dengan Tuhannya, karena munajat dan dzikirnya yang lahir dari kelembutan dan kesucian beliau. Karena itulah, sehingga hatinya dipenuhi al-ma'ariful Ilahiyah (pengetahuan tentang Tuhan) dan al-minnatur Rabbaniyah (anugerah dari Tuhan) sehingga mengenyangkannya dan tak lagi memerlukan makan dan minum.5.. Mandi antara Maghrib dan Isya'. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah ra.: "Rasulullah jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya." Ibnu Jarir berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar. Karena itu, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi sebelumnya, lalu berpakaian bagus, sebagaimana hal tersebut dianjurkan juga pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya. Namun, tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Allah), taubat, dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak. Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Allah Ta'ala berfirman, "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. " (Al-A'raaf: 26).6.. I'tikaf. Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah ra. : "Bahwasanya Nabi Saw senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkannya." Nabi melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya, dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir, dan berdo'a kepada-Nya. Adapun makna dan hakikat i'tikaf adalah: Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada AI-Khaliq. Mengasingkan diri sesuai dengan yang disyari'atkan kepada umat ini, yaitu dengan i'tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan, dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Saw. Orang yang beri'tikaf telah mengikat dirinya untuk taat kepada Allah, berdzikir, dan berdo'a kepada-Nya, serta memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkan diri dari pada-Nya. Ia beri'tikaf dengan hatinya kepada Tuhannya, dan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Ia tidak memiliki keinginanlain kecuali Allah dan ridha-Nya. Semoga Allah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita. (Lihat Lathaa'iful Ma'aarif, oleh Ibnu Rajab, h. 196-203)Semoga sepuluh malam terakhir Ramadhan kali ini kita maknai dengan semestinya. Amien. Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani - IKADI

Hari Raya Pertama 2008 Bersama Keluarga Ustaz Noorhisham


Hari Raya Pertama 1429H Keluarga Ustaz Nazaruddin


Pelajar MTSNA dibawah bimbingan ustaz Nazaruddin


MTS Kok Lanas


Tuesday, September 16, 2008

Peranan Us Nazaruddin Jalaluddin dalam penubuhan

Sejarah penubuhan
Maahad Tahfiz Al-Quran telah ditubuhkan pada tahun 1992. Ia wujud hasil daripada cadangan yang telah dibuat oleh Y.A.B. Tuan Guru Dato’ Nik Abdul Aziz bin Nik Mat setelah menerajui Kelantan sebagai Menteri Besar pada tahun 1990. Yayasan Islam Kelantan (YIK) pada ketika itu di bawah Haji Abdul Samad Mahmood telah menjunjung tinggi cadangan ini dan mengambil inisiatif untuk mengendalikan pengurusan MTAQ.
Seramai 30 orang pelajar dipilih untuk menjadi generasi sulung pelajar MTAQ. Pada ketika itu, mereka ditempatkan di bangunan Lembaga Peperiksaan YIK, Nilam Puri kerana Kompleks MTAQ masih lagi dalam pembinaan. Dua orang guru telah dilantik sebagai tenaga pengajar dengan dibantu oleh beberapa orang pegawai YIK, walaubagaimanapun Us Mohd Mansor Hj Daud, baru melapor diri bertugas sebulan kemudian diatas sebab2 tak dapat dielakkan dan Ustaz Nazaruddin Bin Jalaluddin telah memikul tugas tersebut termasuk urusan asrama pelajar
Mereka kemudiannya beralih ke tempat baru, iaitu Kompleks MTAQ di Pulai Chondong pada 16 Mei 1993. Kompleks MTAQ ketika itu sudah siap binaan asasnya, dengan sebuah bangunan di atas tanah seluas empat ekar. Walaupun para pelajar terpaksa menghadapi segala kekurangan dari segi prasarana dan kemudahan, namun mereka berjaya mengikuti segala proses pembelajaran seperti mana yang diharapkan oleh kerajaan.
MTAQ menjalankan program imam tarawih buat kali pertama pada bulan Ramadan tahun 1413 Hijrah. Sebilangan pelajar dipilih untuk bertugas sebagai imam tarawih di beberapa jajahan sekitar negeri Kelantan sebagai latihan untuk menghadapi masyarakat setempat. Program yang dijalankan ini mendapat sambutan hangat dari semua penduduk negeri Kelantan dan secara tidak langsung memperkenalkan MTAQ di kalangan masyarakat luar Kelantan.
Antara kejayaan yang mula-mula dicapai oleh MTAQ ialah Anugerah Sekolah YIK Terbaik SPM 1997 dan Anugerah Sekolah Terbaik YIK STU 1997. Kejayaan yang diraih ini sekaligus menjawab persoalan di kalangan masyarakat bahawa menghafaz al-Quran tidak menghalang kecemerlangan di dunia.
Kemudahan dan prasarana MTAQ juga ditingkatkan dari semasa ke semasa. Pada tahun 1998, sudah beberapa binaan ditambahkan. Antaranya ialah bangunan pentadbiran, perpustakaan, masjid, dewan makan dan dua unit rumah guru. Kakitangan pengurusan MTAQ juga bertambah menjadi seramai 21 orang, termasuk empat orang kakitangan sokongan.
Diperolehi daripada "http://mtaq.edu.my/Sejarah_penubuhan"